/>
 

    Sirih berlipat sirih pinang
    Sirih dari pulau Mutiara
    Pemanis kata selamat datang
    Awal Bismillah pembuka bicara

    Tuailah padi antara masak 
    Esok jangan layu-layuan
    Intailah kami antara nampak
    Esok jangan rindu-rinduan

    Hendak dulang diberi dulang
    Dulang berisi sagu mentah
    Hendak pulang ku beri pulang
    Tinggalkan pantun barang sepatah

    Lancang kuning lancang pusaka 
    Nampak dari Tanjung Tuan
    Kalau kering laut Melaka
    Barulah saya lupakan puan

    Asam kandis mari diiris
    Manis sekali rasa isinya
    Dilihat manis dipandang manis
    Lebih manis hati budinya

    Kalau ku tahu paria pahit
    Tidak ku gulai dalam belanga
    Kalau ku tahu bercinta sakit
    Tidak ku mulai dari semula

    Akar bambu bersesap-sesap
    Anaklah kucing dalam perahu
    Terbakar rumah menjadi asap
    Terbakar hati orang tak tahu

    Ayam hutan terbang ke hutan
    Tali tersangkut pagar berduri
    Adik bukan saudara bukan
    Hati tersangkut karena budi

    Ayam rintik dipinggir hutan
    Nampak dari tepi telaga
    Nama yang baik jadi ingatan
    Seribu tahun terkenang juga

    Bila memandang ke muka laut 
    Nampak sampan mudik ke hulu
    Bila terkenang mulut menyebut
    Budi yang baik ingat selalu

    Burung Serindit terbang melayang 
    Mari hinggap di ranting mati 
    Bukan ringgit dipandang orang
    Budi bahasa rangkaian hati

    Bukan lebah sebarang lebah 
    Lebah bersarang di pohon kayu
    Bukan sembah sembarang sembah
    Sembah adat pusaka Melayu

    Bukan lebah sebarang lebah 
    Lebah bersarang di rumpun buluh
    Bukan sembah sembarang sembah
    Sembah menyusun jari sepuluh

    Rumah limas anjung Selatan 
    Bunga kemuning tumbuh di halaman 
    Tangkainya emas bunganya intan
    Bolehkah ranting hamba patahkan

    Tumbuh betik di tepi halaman
    Pokok berangan pokok teruntum
    Sungguh cantik bunga di taman
    Bolehkah gerangan petik sekuntum

    Asap api embun berderai 
    Patah galah haluan perahu
    Niat hati tak mau bercerai
    Kehendak Allah siapa yang tahu

    Air dalam bertambah dalam 
    Hujan di hulu belumlah teduh
    Hati dendam bertambah dendam
    Dendam dahulu belumlah sembuh

    Halia ini tanam-tanaman 
    Ke barat juga akan condongnya
    Dunia ini pinjam-pinjaman
    Akhirat juga akan sungguhnya

    Hari panas mencucuk benang
    Benang menjahit baju kebaya
    Air jernih lubuknya tenang
    Jangan disangka tiada buaya

    Anak punai anak merbah
    Hinggap ditonggak mencari sarang
    Anak sungai lagikan berubah
    Inikan pula hati orang

    Apa guna pasang pelita
    Jika tidak dengan sumbunya
    Apa guna bermain kata
    Kalau tidak dengan sungguhnya

    Buah kuini jatuh tercampak 
    Jatuh menimpa bunga selasih
    Biar bertahun dilambung ombak
    Tidak ku lupa pada yang kasih

    Apa guna berkain batik
    Kalaulah tidak dengan kainnya
    Apalah guna beristri cantik
    Kalaulah tidak jujur hatinya

    Buah jambu disangka kandis 
    Kandis ada di dalam cawan
    Gula madu disangka manis
    manis lagi senyuman puan

    Dari Arab turun ke Aceh
    Naik ke Jawa berkebun serai
    Apa diharap pada yang kasih
    Badan dan nyawa lagi bercerai

    Bunga Melati terapung-apung 
    Bunga rampai di dalam puan 
    Rindu hati tidak tertanggung
    Bilakah dapat berjumpa puan

    Burung Merak terbang ke laut 
    Sampai ke laut mengangkut sarang
    Sedangkan bah kapal tak hanyut 
    Inikan pula kemarau panjang

    Dari Jawa ke Bengkahulu
    Membeli keris di Inderagiri
    Kawan ketawa ramai selalu
    Kawan menangis seorang diri

    Dari teluk pergi pangkalan
    Bermain di bawah pohon kepayang
    Saya umpama habuk di papan 
    Ditiup angin terbang melayang

    Orang Melayu naik perahu 
    Sedang berdayung hujan gerimis
    Hancur hatiku adek tak tahu
    Mulut tertawa hati menangis

    Orang tani mengambil nipah
    Hendak dibawa ke Indragiri
    Seluruh alam ku cari sudah
    Belum bersua pilihan hati

    Ribu-ribu pokok mengkudu
    Cincin permata jatuh ke ruang
    Kalau rindu sebut namaku 
    Airmata jangan dibuang

    Kalau roboh kota Belawan
    Sayang selasih di dalam tuan
    Kalau sungguh ingin diucapkan
    Rasa nak mati dipangkuan puan

    Limau purut lebat di pangkal 
    Batang mengkudu condong uratnya
    Hujan ribut dapat ditangkal
    Hati yang rindu apa obatnya

    Kalau menyanyi perlahan-lahan
    Dibawa angin terdengar jauh 
    Rindu di hati tidak tertahan
    Di dalam air badan berpeluh

    Ku sangka nanas atas permatang 
    Rupanya durian tajam berduri
    Ku sangka panas hingga ke petang 
    Rupanya hujan ditengah hari

    Kayuh perahu sampai seberang
    Singgah bermalam di kampung hulu
    Bukan tak tahu dunia sekarang
    Gaharu dibakar kemenyan berbau

    Anak ikan dipanggang saja 
    Hendak dipindang tiada berkunyit
    Anak orang dipandang saja
    hendak dipinang tiada berduit

    Saya tak hendak berlesung pauh 
    Lesung pauh membuang padi 
    Saya tak hendak bersahabat jauh 
    Sahabat jauh merisau hati

    Limau purut di luar pagar 
    Rimbun putik dengan bunganya
    Hujan ribut padang terbakar
    Embun setitik padam apinya

    Puas saya bertanam ubi
    Nanas juga dipandang orang 
    Puas saya menabur budi
    Emas juga dipandang orang

    Tenang-tenang air di laut 
    Sampan golek mudik ke tanjung
    Hati terkenang mulut menyebut
    Rindu kini tiada penghujung

    Bunga Tanjung kembang semalam 
    Pohon tinggi tidak berduri
    Gelombang besar di laut dalam
    Karena Puan saya kemari

    Dari mana hendak ke mana 
    Tinggi rumput dari padi
    Hari mana bulan mana
    Dapat kita berjumpa lagi

    Padi ini semumba-mumba 
    Daun kurma daun cempedak
    Macam mana hati tak hiba
    Entah bertemu entah tidak

    Akar keladi melilit selasih 
    Selasih tumbuh di hujung taman
    Kalungan budi junjungan kasih
    Mesra kenangan sepanjang zaman 

    Ayam rintik dipinggir hutan
    Nampak dari tepi telaga
    Nama yang baik jadi ingatan
    Seribu tahun terkenang juga

    Anak beruk ditepi pantai
    Pandai melompat pandai berlari
    Biar buruk kain dipakai
    Asal hidup pandai berbudi 

    Kiri jalan kanan pun jalan
    Tengah-tengah pohon mengkudu
    Kirim jangan, pesan pun jangan
    Sama-sama menanggung rindu

    Mendung si mega mendung 
    Mendung datang dari utara
    Jangan selalu duduk termenung
    Kalau termenung badan merana

    Pohon mengkudu tumbuhnya rapat 
    Rapat lagi pohon jati
    Kawan beribu mudah didapat
    Sahabat setia payah dicari

    Dua paya satu perigi 
    Seekor bujuk anak haruan
    Puan disana, saya disini
    Bagai pungguk rindukan bulan 

    Gesek rebab petik kecapi
    Burung tempua membuat sarang
    Apa sebab jadi begini
    Karam berdua basah seorang

    Hendak gugur, gugurlah nangka
    Jangan menimpa putiknya pauh
    Hendak tidur, tidurlah mata
    Jangan mengenang si dia yang jauh 

    Kain batik negeri seberang
    Dipakai anak Tanah Melayu
    Apa artinya kasih dan sayang
    Kalaulah adek berjanji palsu

    Pantai kalangan pasirnya putih
    Anak dagang berulang mandi
    Apa disesal orang tak kasih
    Sudah suratan diri sendiri 

    Disana pauh di sini pun pauh
    Daun mengkudu ditandungkan
    Adinda jauh kakanda jauh 
    Kalau rindu sama tanggungkan

    Pulau Tinggi terendak Cina
    Nampak dari Pulau Sibu
    Adek pergi janganlah lama
    Tidak kuasa menanggung rindu 

    Putik pauh delima batu
    Anak sembilang di tapak tangan
    Puan jauh di negri satu
    Hilang di mata, di hati jangan

    Bila ada sumur di ladang
    Bolehlah saya menumpang mandi
    Bila ada umur panjang
    Pantun ini disambung lagi :D

    =====

    http://putrasumatra.mw.lt/pantun_melayu.htm
 
 

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Sastra Melayu Klasik bermula pada abad ke-16 Masehi. Semenjak itu sampai sekarang gaya bahasanya tidak banyak berubah.

    Dokumen pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu klasik adalah sepucuk surat dari raja Ternate, Sultan Abu Hayat kepada raja João III diPortugal dan bertarikhkan tahun 1521 Masehi.

    bentuk sastra Melayu

    Gurindam

    Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

    Gurindam Lama

    contoh :

    Pabila banyak mencela orang
    Itulah tanda dirinya kurang
    Dengan ibu hendaknya hormat
    Supaya badan dapat selamat

    Gurindam Dua Belas

    Kumpulan gurindam yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari Kepulauan Riau. Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.

    Hikayat

    Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Salah satu hikayat yang populer di Riau adalah Yong Dolah.

    Karmina

    Artikel utama untuk bagian ini adalah: Karmina

    Karmina atau dikenal dengan nama pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.

    Contoh

    Sudah gaharu cendana pula Sudah tahu masih bertanya pula

    Pantun

    Pantun merupakan sejenis puisi yang terdiri atas 4 baris bersajak a-b-a-b, a-b-b-a, a-a-b-b. Dua baris pertama merupakan sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. 1 baris terdiri dari 4-5 kata, 8-12 suku kata.

    Contoh Pantun

    Kayu cendana diatas batu
    Sudah diikat dibawa pulang
    Adat dunia memang begitu
    Benda yang buruk memang terbuang

    Seloka

    Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, kadang-kadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

    contoh seloka lebih dari 4 baris:

    Baik budi emak si Randang
    Dagang lalu ditanakkan
    Tiada berkayu rumah diruntuhkan
    Anak pulang kelaparan
    Anak dipangku diletakkan
    Kera dihutan disusui

    Syair

    Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud). Syair berasal dari Arab.

    Talibun

    Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya.

    Contoh Talibun :

    Kalau anak pergi ke pekan
    Yu beli belanak beli
    Ikan panjang beli dahulu
    Kalau anak pergi berjalan
    Ibu cari sanakpun cari
    Induk semang cari dahulu
 
 

    Orang kaya banyak berharta 
    Ke Sumatra setiap tahun 
    Bismillah saya membuka kata 
    Berseni sastra membuat pantun 



    Daun ilalang pucuknya mati 
    Buah pisang berwarna hitam 
    Pantun dikarang penghibur hati 
    Turut kembangkan budaya Etam 



    Daun ilalang taruh di topi 
    Daun Kurma ditambah lagi 
    Pantun kukarang di malam sepi 
    Kala purnama telah meninggi 



    Ambil paku di Kota Raja 
    Di Kota Raja mendapat intan 
    Wahai saudaraku di mana saja 
    Pantun kukarang untuk kalian 


    BUDAYA ETAM 

    Jalan-jalan sekitar taman 
    Jangan patahkan mawar berduri 
    Wahai kawan sesama seniman 
    Mari lestarikan budaya Etam 



    Anak badak mencari makan 
    Anak ketam di dalam tanah 
    Kalau tidak dilestarikan 
    Budaya Etam pastilah punah 

    *

    Minum susu memakai rantang 
    Tumpah di bantal di atas tilam 
    Anak cucu di masa datang 
    Tidak kenal budaya Etam 

    *

    kalau tilam sudahlah basah 
    Jemur sekarang di atas atap 
    Budaya etam sangatlah indah 
    Sungguh sayang, janganlah lenyap 

    *

    terbang rendah burung peragam 
    Dari huma terbang ke hutan 
    Budaya daerah beraneka ragam 
    Mari bersama kita lestarikan 

    *

    main gasing janganlah rebah 
    Memakai tali pelepah pisang 
    Budaya asing sudah merambah 
    Budaya asli janganlah hilang 

    *

    Mari menyanyi sambil menari 
    Suara dua tinggi dan rendah 
    Budaya negeri tetap lestari 
    Negeri kita semakin indah 



    Air terjun bertangga dua 
    Tempat gadis mencuci kain 
    Syair, pantun, serta mamanda 
    Juga masih banyak yang lain 



    Buah kelat waktu dirasa 
    Meludah lagi kalau tak nyaman 
    Wahai pejabat serta pengusaha 
    Bantulah kami para seniman 



    Pohon kurma sebesar paha 
    Pohon Kemiri tidak berduri 
    Mari bersama kita berusaha 
    Mmembangun seni negeri sendiri 

    *

    Anak cecak mencari makan 
    Bersembunyi di bawah papan 
    Orang bijak pasti pikirkan 
    Hari ini dan masa depan 



    Ada ikan namanya tenggiri 
    Ikan dibawa ke Muara Kaman 
    Melestarikan budaya negeri 
    Bukanlah hanya tugas seniman 



    ======

    http://abu_dillah.tripod.com/abu_dillah/id9.html
 
 

Oleh: Prof. Dr. Abdul Hadi W.M.


A. Pendahuluan

 

Setiap bangsa pada umumnya memiliki bentuk pengucapan puitik yang disukai untuk menyampaikan alam pikiran, perasaan, dan tanggapan mereka terhadap kehidupan yang mereka hayati. Orang Jepang memiliki tanka dan haiku, dua ragam pengucapan puitik yang ringkas dengan aturan tertentu. Di Eropa soneta dan kuatrin merupakan bentuk puisi lama yang disukai orang Italia, Perancis, Inggeris, dan lain-lain. Orang Persia menyukai rubaiyat dan ghazal, dua bentuk puisi empat baris dengan aturan dan keperluan berbeda. Orang Melayu memilih pantun dan syair, sekalipun bentuk pengucapan lain seperti gurindam dan taromba (bahasa berirama) juga cukup disukai. Yang terakhir ini mirip dengan mantera.

Sebagai karangan terikat pada aturan persajakan tertentu, pantun memiliki kekhasan. Ia terdiri dari sampiran dan isi. Sampiran berperan sebagai pembayang bagi maksud yang ingin disampaikan, sedangkan isi berperan sebagai makna atau gagasan yang ingin dinyatakan. Walaupun pada umumnya pantun terdiri dari empat baris dengan pola sajak a b a b atau a a a a, tidak jarang terdiri dari enam atau delapan baris. Pantun delapan baris disebut talibun. Pada pantun empat baris, dua baris awal merupakan sampiran, sedang dua baris akhir merupakan isi. Dalam sampiran biasanya yang dinyatakan ialah gambaran alam atau lingkungan kehidupan masyarakat Melayu termasuk adat istiadat, sistem kepercayaan dan padangan hidupnya.

Berbeda dengan syair yang lahir dari tradisi tulis yang muncul bersamaan dengan perkembangan agama Islam, ada ada pertautannya dengan bentuk pengucapan puitik dalam sastra Arab dan Persia; pantun lahir dari tradisi lisan dan tampaknya hanya sedikit dipengaruhi oleh puitika India, Arab, dan Persia. Sebagai bentuk sajak yang mudah diingat dan mudah pula dinyanyikan, hubungan antara sampiran dan isi dalam pantun sejak lama tidka sedikit pula yang berpendapat bahwa hubungannya sebatas persamaan bunyi.

Seperti halnya syair dan gurindam, wilayah penyebaran pantun begitu luasnya di kepulauan Nusantara. Ia tidak hanya digenal dan digemari oleh orang Melayu, tetapi juga oleh suku bangsa lain di Nusantara seperti Aceh, Gayo, Batak, Mandailing, Minangkabau, Lampung, Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Makassar, Sasak, Bima, Banjar, dan suku bangsa lain di Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Terkadang timbul pertanyaan: kapankah penyebarannya itu terjadi? Apakah pada zaman sebelum Islam yaitu dalam abad ke-8 sampai ke-11 M ketika bahasa Melayudijadikan lingua franca di bidang perdagangan. Ataukah pada zaman pesatnya perkembangan agama Islam ketika bahasa Melayu naik peranannya bukan sekadar sebagai bahasa pergaulan dalam perdagangan, tetapi juga bahasa pergaulan antar etnik di Nusantara dalam bidang politik, administrasi, intelektual, dan kebudayaan? Bagaimana pula penyebaran itu berlangsung. Tetapi bagaimana pun dan kapan pun mulai tersebar, pantun memang memiliki daya tarik tersendiri yang memungkinkan luasnya penyebarannya. Ia merupakan bentuk pengucapan puitik yang bersahaja, namun penuh dengan kemungkinan.

Tentu saja selain persoalan-persoalan berkenan dengan keunikan dan struktur lahirnya, dalam makalah ini dibahas juga kedudukan pantun dalam kebudayaan Melayu serta perannya sebagai media yang mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu.



B. Sebagai Pengucapan Puitik 



 

Tidak banyak diketahui kapan pantun muncul dan dari akar apa ia dibentuk. Juga tidak banyak diketahui apa arti dari kata-kata pantun sebenarnya. Teks Melayu tertua yang dijumpai dan mulai menyebut pantun sebagai bentuk sajak yang popular dalam masyarakat Melayu ialah teks syair-syair tasawuf Abdul Jamal,  penyair dan sufi Melayu yang hidup di Barus dan Aceh pada abad ke-17 M dan merupakan murid dari Syekh Syamsudin Pasai. Syair Abdul Jamal itu sebutan pantun dengan kata-kata seperti bandunbantun, dan lantun. Secara tersirat dalam syair itu pantun disebut sebagai puisi yang biasa dilantunkan secara spontan untuk menyindir, berseloroh, dan menghibur diri (Braginsky, 1975).

Dalam beberapa bahasa Nusantara seperti Sasak di Lombok dan Madura di Jawa Timur, kata-katapantun diberi arti nyanyian. Orang yang menyanyi di Madura dikatakan apantun (berpantun), dan yang dinyanyikan ialah sajak yang dalam Bahasa Melayu disebut pantun. Masuknya perkataan ini dan kebiasaan menyanyikan pantun mungkin telah dikenal pada abad ke-17 M, atau setidak-tidaknya pada abad ke-18 M. Yaitu pada masa tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan Islam, sedangkan bahasa Melayu dijadikan bahasa pengantar sebelum murid menguasai bahasa Arab. Pada abad ke-18 pula mulai banyak kitab dan hikayat Melayu diterjemahkan dan disadur ke dalam bahasa Jawa, Sunda; Madura, dan Sasak (Abdul Hadi W. M., 2005). Dalam kenyataan memang tidak sedikit dari lirik lagu-lagu Jawa, Minangkabau, Sunda, Melayu Betawi, dan lain-lain adalah pantun.

Pengertian pantun sebagai lirik yang dinyanyikan atau nyanyian itu sendiri telah disebutkan oleh seorang sarjana Belanda abad ke-19 M. J. J. de Hollander dalam bukunya Handleideing bij de beoefening der Maleische taal en letterkunde (1893). Hollander mengatakan bahwa yang disebut pantun sebagian besarnya adalah sajak percintaan yang dinyanyikan atau dibaca dengan dinyanyikan secara spontan dan dalam pesta. Dia merujuk pada dua hikayat Melayu, yaitu Hikayat Bikrama Datya Jaya dan Hikayat Bujangga Mahaputra. Dalam hikayat yang pertama ditemukan berulang kali kata-kata seperti: "Segala dayang-dayang pun bersyair dan berpantun dan berseloka." Hollander berpendapat bahwa syair berasal dari sastra Arab, seloka dari sastra India (Sanskerta), sedang pantun adalah nyanyian Melayu asli.

Dominannya tema percintaan itu masih ditemui hingga sekarang. Pantun Melayu yang sangat popular misalnya seperti berikut ini:

Dari mana datangnya linta 
Dari sawah turun ke kali 
Dari mana datangnya cinta 
Dari mata turun ke hati

Pantun yang terdapat dalam lagu Betawi "Jali-jali" juga demikian:

Paling enak si mangga urang
Pohonnya tinggi buahnya jarang 
Paling enak si orang bujang 
Ke mana-mana tiada melarang

    

Di sana gunung di sini gunung
Di tengah-tengahnya bunga melati 
Ke sana bingung ke sini bingung
Dua-duanya menarik hati

Di dalam masyarakat Melayu Banjar tema cinta juga dominan dalam pantun. Contohnya seperti berikut:

 

 (Apa guna bermain pelita 
Kalau tidak dengan sumbunya 
Apa guna bermain cinta 
Kalau tidak berani kawin)

Dalam masyarakat suku bangsa Nusantara lain pun demikian. Contohnya adalah pantun Madura tentang seseorang yang ditinggalkan kekasihnya:

Ka bara bara’ kellem arena
Katemor kolare nyangsang 
Kaberra’-berra’ le’ atena 
Nyalemor ate se posang

 

Ke arah barat tenggelam matahari

Di timur daun nyiur kering bergelantungan 
Sungguh berat rasa dalam hati
Merayau-rayau aku kebingungan

Adapun pantun Jawa berikut ini ialah tentang pertemuan seorang pemuda dengan seorang gadis setelah lama tidak berjumpa:

Suwe ora jamu
Jamu godhong mentimun 
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe ngelamun

 

(Lama tak minum jamu
Minum jamu daun mentimun 
Lama tidak ketemu
Ketemu sekali saya melamun)

Di sini saya petikkan pula dua pantun dalam Hikayat Suluang Merah Muda, yang di dalamnya juga terdapat pantun terkenal “Pulau Pandan jauh di tengah”. Yang pertama:

Selat Dinding tanjung terkucil
Di sini cik Ayub berkedai belanga 
Putih kuning pinggangnya kecil 
Pipi dicium berbau bunga

Adapun yang kedua tidak begitu ketara sebagai pantun percintaan, yaitu seperti ini:

Terang bulan di laman tangga
Sarang penyengat di dalam padi
Adakah orang semacam saya
Menaruh khianat dalam hati?

Tetapi yang lebih seronok adalah pantun seperti berikut ini:

Ke Teluk sudah ke Siam sudah 
Ke Mekkah saja saya yang belum
Berpeluk sudah bercium sudah 
Menikah saja saya yang belum

 Roman Siti Nurbaya karangan Marah Rusli yang ditulis pada awal abad ke-20 juga penuh dengan kutipan pantun percintaan.

jika betul tema yang dominan pada mulanya adalah sindiran dan percintaan, sejak kapan tema pantun mengalami perluasan? Hollander mencatat bahwa kemungkinan besar setelah pesatnya perkembangan agama Islam. Para ulama dan ahli tasawuf menghendaki sastra tidak hanya mengungkapkan tema-tema percintaan dan pelipur lara, tetapi juga tema-tema sosial dan keagamaan, sehingga selain unsur hiburan sastra juga mengandung unsur pendidikan. Risalah tasawuf Hamzah Fansuri Asrar al-’Arifin, sebagaimana akan dikupas nanti, merupakan satu bukti tertulis. Dalam teks yang disalin pada abad ke-17 M dimuat sebuah pantun yang memuat ajaran tasawuf.

Oleh karena itu beralasan jika muncul anggapan bahwa pantun menjadi bentuk pengucapan puitik yang isi dan temanya kompleks setelah pesatnya perkembangan agama Islam pada abad ke-15 dan 16 M. Hamzah Fansuri sendiri hidup pada abad ke-16 dan murid-muridnya seperti Abdul Jamal mengecam pantun hanya mengemukakan tema-tema berisi percintaan. Begitu pula pembedaan antara sampiran dan isi lantas kian dipertegas, sebab itu sesuai dengan puitika dan estetika yang diperkenalkan orang-orang Islam. Dalam tradisi Islam karangan sastra digambarkan seperti manusia yang terdiri dari dua unsur yang saling berhubungan, yaitu badan dan jiwa/roh. Bentuk lahir atau badan dari karangan sastra disebut surah dan makna batin atau isinya disebut ma’na.

Kaitan perkembangan tema pantun dengan Islam dapat dilihat dari jenis-jenis pantun. Dari segi isi pantun dapat dibagi menjadi: (1) Pantun anak-anal; (2) Pantun cinta dan kasih sayang; (3) Pantun tentang adat istiadat dan cara hidup mayarakat Melayu; (4) Pantun teka teki; (5) Pantun pujian atau sambutan, misalnya dalam menyambut tamu di sebuah majelis; (6) Pantun nasehat, misalnya pentingnya budi pekerti; (7) Pantun agama dan adab; (8) Pantun cerita (lihat juga Harun Mat Piah, 1989: 189-90). Dilihat dari isinya ini jelas pantun mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu.

C. Sampiran dan Isi

 

Kapan pantun muncul dalam sejarah kesusastraan Melayu? Tidak ada sarjana dapat memastikan. Namun ada sebuah bukti tertulis yang saya ketahui, yaitu dalam risalah tasawuf Hamzah FansuriAsrar al-Arifin (Rahasia Ahli Makrifat). Risalah itu ditulis oleh sang Sufi pada abad ke-16 M, namun naskah yang ada merupakan yang ditulis pada akhir abad ke-17 M. Ada dua rangkap puisi yang mirip pantun dijumpai dalam naskah tersebut.

Kunjung kunjung di bukit tinggi 
Kolam sebuah di bawahnya 
Wajib insan mengenai diri
Sifat Allah pada tubuhnya

 

Nurani hakikat khatam
Supaya terang taut maha dalam 
Berhenti angin ombak pun padam 
Menjadi sultan kedua alam

(al-Attas 1970:235)

Pada pantun pertama, pembagian sampiran dan isi jalas. Sampiran berupa lukisan alam. Sedangkan isinya berupa gagasan. Begitu pula pola sajak akhirnya a b a b, seperti pantun pada umumnya. Namun pada pantun kedua perbedaan antara sampiran dan isi samar-samar, sedangkan pola sajak akhirnya a a a a. Yang menarik bahwa hubungan atau kesejajaran makna antara sampiran dan isi cukup jelas pada pantun pertama. Hubungan ini tersirat dalam citraan bukit yang tinggi dengan gagasan tentang diri yang hakiki. Apabila manusia mengenal dirinya yang hakiki atau hakikat dirinya ia akan memperoleh kemuliaan. Kolam merupakan citraan yang dapat dihubungkan dengan cermin, sedangkan tubuh manusia menurut pandangan sufi adalah tempat kita bercermin untuk mengenal sifat-sifat Tuhan.

Hooykaas adalah salah seorang dari sarjana yang meyakini ada kaitan tersembunyi antara sampiran dan isi. Begitu pula Noriah Mohamed. Namun tidka sedikit yang berpendapat bahwa antara sampiran dan isi hanya dihubungkan oleh kesejajaran bunyi. Sutardji Calzoum Bachri

(2006) termasuk yang berpendapat demikian. Malah ia mengatakan bahwa puisi yang sebenarnya dalam pantun adalah sampirannya. Isinya adalah tambahan yang tidak terlalu diperlukan secara estetik. Pantun seperti itu memang tidak sedikit. Kecuali itu terdapat pula pantun yang perbedaan antara sampiran dan isinya samar-samar seperti yang terdapat dalam teks risalah tasawuf Hamzah Fansuri.

Untuk mernbuktikan bahwa antara sampiran dan isi memiliki kaitan makna yang sifatnya tersembunyi, saya ingin memberi contoh beberapa pantun. Pantun yang mengandung nasehat ini terdapat dalamHikayat Awang Sulung Merah Muda. Pantun ini lahir ketika dia bersemayam dengan istrinya Tuan Putri Dayang Seri Jawa di magun di atas sebuah peterana. Sang putri bertanya nama-nama pulau yang dilihatnya. Setalah menjelaskan pulau Tapai, pulau Keladi dan pulau Sembilan, ada sebuah pulau yang agak jauh yang ditanyakan namanya. Seperti sebelumnya dia menyebut nam pulau itu seraya berpantun seperti berikut:

Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik pulau Angsa dua
Hancur badan dikandung tanah
budi baik dikenang jua

 

Dalam pantun ini jelaslah bahwa sampiran merupakan lukisan tentang alam. Fungsinya ialah sebagai citraan yang membangkitkan cita rasa akan keindahan lahir. Namun bagaimana pun juga citra pulau Pandan jauh di tengah memiliki kaitan arti dengan badan yang hancur dikandung tanah. Yaitu sesuatu yang tersembunyi dari penglihatan mata. Lebih jauh dinyatakan bahwa di depan pulau Pandan terdapat Fulau Angsa dua, yang disebabkan lebih dekat mudah dilihat. Begitu pula dengan budi baik, seseorang yang kita kenal, walaupun sudah tiada. Contoh lain ialah pantun berikut:

Pisang emas dibawa berlayar 
Masak sebiji di dalam peti
Hutang emas dapat dibayar 
Hutang budi dibawa mati

 

Kata-kata "Masak sebiji dalam peti" memberi gambaran sesuatu yang tersembunyi seperti budi. Sedangkan kata "Pisang emas dibawa berlayar” menunjukkan sesuatu yang kelihatan seperti halnya orang berhutang emas. Lihat pula pantun berikut ini:

Sudah puas kutanam ubi
Nenas juga dipandang orang
Sudah puas kutanam budi 
Emas juga dipandang orang

 

Dalam pantun ini hendak dinyatakan bahwa orang gemar melihat martabat seseorang berdasarkan penampakan lahir yaitu yang dimiliki. Tetapi lupa kepada sesuatu yang lebih penting yaitu budi sebab tersembunyi, tersembunyi seperti halnya ubi yang tersembunyi dalam tanah. Jadi beda dengan nenas yang tampak di mata. Selain itu, pantun memiliki konteks sosial budaya. Ubi adalah tanaman domestik atau pribumi yang sudah dikenal lama oleh orang Melayu dan tidak sukar mendapatkannya. Tetapi nenas adalah tanaman yang didatangkan dari Amerika Latin pada zaman kolonial. Harga buah nenas jelas lebih mahal dari ubi. ltu sebabnya ia lebih dipandang dibanding budi.

Kelap kelip kusangka api 
Kalau api mana puntungnya
Hilang gaib kusangka mati
Kalau mati mana kuburnya

 

 Citraan kelap-kelip pada sampiran masih berkaitan dengan perkataan gaib. Teka-teki apakah orang hilang yang dibicarakan sudah mati atau belum dinyatakan melalui pertanyaan: “Kalau mati mana kuburnya?" Basis pada isi ini punya kaitan dengan basis kedua pada sampiran, "Kalau api mana puntungnya?" Api adalah tanda kehidupan dan puntung tanda kematian. Kubur begitu pula adalah tempat orang mati dikuburkan. Yang menarik ialah sampiran dan isi sama-sama indahnya kendati sederhana.

Contoh lain ialah pantun yang tergolong pantun nasehat atau pantun agama seperti berikut ini:

Kemumu dalam semak
Terbang melayang selaranya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya

 

 Kemumu adalah burung yang tidak dapat terbang tinggi seperti burung yang lain pada umumnya. Ia dapat dijadikan perumpaman bagi ilmu dunia, yang walaupun kelihatannya memiliki kekuatan tetapi tidak dapat mengangkat derajat manusia di sisi Tuhan. Di sini pandangan hidup orang Melayu yang jiwanya sudah diresapi ajaran Islam terserlah. Bagi sufi Melayu misalnya sembahyang atau shalat dipandang sebagai mikrajnya orang Islam. Mikraj berarti pendakian atau penerbangan menuju hakikat tertinggi, yaitu Tuhan, yang tidak dicapai semata melalui ilmu pengetahuan rasional.

Contoh pantun lain mengenai kaitan tersembunyi sampiran dan isi dapat ditemui dalam buku Hooykaas (1965) seperti berikut:

Orang berladang orang berhuma
Sebulan sekali pergi ke gereja
Jika kucing tidak di rumah
Tikus menari di atas meja

 

 Menurut Hooykaas ini lahir ketika seorang sarjana sastra Melayu dari Inggris Overbeck pulang ke rumahnya setelah lama bepergian. Ia melihat keadaan rumah yang berantakan. Lantas dia berkata kepada pembantunya seorang pemuda: "Jikalau kucing tidak di rumah, tikus menari di atas meja." Pernyataan itu secara spontan dilontarkan Overbeck dan didasarkan atas kenyataan bahwa di dekat rumahnya tinggal beberapa orang Kristen yang bertani. Sebulan sekali mereka pergi ke gereja. Ketika itulah pemuda tersebut mengambil kesempatan untuk melihat-lihat apakah ada gadis cantik di sana. Jika ada ia akan dirayu bercumbu-cumbuan di rumah tuannya, sehingga rumah tuannya itu berantakan. Sebelum sempat dirapikan kembali, tuannya sudah pulang ke rumah. Isi pantun itu jelas adalah sebuah gagasan yang dinyatakan dalam bentuk perumpamaan. Setelah tahu keadaan di rumah orang Kristen itu setiap bulannya, maka pemuda itu berkata kepada Overbeck: “Orang berladang orang berhuma, sebulan sekali ke gereja.’ Setelah digabung gengan apa yang sebelumnya diucapkan Overbeck kepada pemuda pembatu rumahnya, maka jadilah pantun di atas.

D. Estetika dan Cermin Kehidupan

 

Sebelum dijelaskan betapa pantun mencerminkan kehidupan masyarakat termasuk alam pikiran dan perasaaan, pandangan hidup dan kepercayaan serta adat istiadatnya, perlu kita lihat ciri-ciri estetik pantun. Melalui hasil penelitian sarjana seperti Winstedt, Wilkinson, van Ophuysen, Hooykaas, Harun Mat Piah dan dan Noria Mohamed, dan lain-lain, kita dapat menjelaskan seperti berikut:

Pertama, pantun pada umumnya terdiri dari empat baris dengan pola bunyi akhir a b a a b atau a a a a. Kendati demikian terdapat pantun yang terdiri dari dua, enam, dan delapan baris. Yang terakhir ini disebut talibun.

Kedua, setiap baris merupakan kesatuan yang terpisah, walau tidak jarang berkesinambungan dengan baris berikutnya. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, yang membayangi isi yang akan dihadirkan. Baris ketiga dan keempat disebut isi, berupa gagasan dan tanggapan yang hendak dinyatakan.

Ketiga, baris sampiran dan isi kerap memiliki kaitan arti di samping kesejajaran bunyi.

Keempat, tiap baris pada umumnya mengandungi empat kata dasar dengan jumlah suku kata antara delapan sampai sepuluh.

Kelima, sering terdapat klimaks berupa perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau perkataan pada bait isi.

Keenam, sampiran pada umumnya berisi lukisan alam yang terdapat di lingkungan sekitar. Ia sering hadir sebagai citraan-citraan simbolik yang dapat menjelaskan pandangan estetik orang Melayu, kedekatan dengan alam dan budaya masyarakatnya.

Adapun ciri batinnya dapat dirasakan melalui makna simbolik dari citraan dan gagasan yang hendak dihadirkan yang merujuk pada pandangan hidup, alam perasaan, gagasan, kepercayaan, dan sistem nilai yang dihayati masyarakat Melayu setelah mereka menganut agama Islam. Ciri batin inilah yang secara keseluruhan mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu, khususnya berkenaan dengan estetika, metafisika, dan sistem sosial dan kekerabatan bangsa Melayu. Bagi orang Melayu semua itu saling terkait dan merupakan kesatuan yang tidak terpisa. Ini tercermin dalam pantun ringkas seperti berikut:

Yang kurik kundi, yang merah saga
Yang baik budi, yang indah bahasa

 

 Tidak mengherankan jika Daillie (1988: 6) mengatakan bahwa pantun memberikan gambaran ringkas kehidupan dan alam orang Melayu dalam sebutir pasir. Di dalamnya tergambar semua unsur kehidupan manusia Melayu meliputi tanah, rumah, kebun, ladang, sawah, sungai, laut, gunung, hutan, pepohonan, buah-buahan, binatang, burung, ikan dan lain sebagainya; hal-hal bersahaja dalam kehidupan keseharian. Pantun juga mengekspresikan adat istiadat dan kebiasaan, kearifan, kepercayaan dan perasaan orang Melayu tentang segala hal, termasuk cinta mereka kepada sesama manusia, cinta kasih lelaki dan wanita, serta cinta kepada Tuhan dan Nabi.

Telah diketahui bahwa sampiran dalam pantun sering merupakan lukisan alam yang berfungsi sebagai citraan yang hidup. Gunanya untuk membangun cita rasa puitik. la merupakan hal-hal yang karib dan memiliki arti tertentu dalam kehidupan orang Melayu. Ia juga dipilih dengan pertimbangan tertentu yang matang, jadi tidak sembarangan. Demikian juga gagasan yang disampaikan dalam isi, melekat dalam pandangan orang Melayu yang berakar dalam agama Islam. Misalnya dalam contoh seperti berikut:

Sarung Bugis jadikan selimut
Dibawa orang dari Bintan
Sudah tertulis di Latihul Mahfud
Di dunia ini kita berkawan

    

Pulau sembilan tinggal delapan
Satu merajuk ke Kuala Kedah
Sudahlah nasib permintaan badan
Kita di bawah kehendak Allah

 

 Sarung Bugis umumnya dibuat dari sutra dan merupakan sarung paling mahal dan prestisius di Nusantara. la tentu sudah tidak asing bagi orang Melayu karena kehadiran orang Bugis sudah terjadi sejak lama di kepulauan Melayu. Mereka telah hadir di Aceh sebagai pelaut ulung, bahkan salah seorang laksamana mereka Datuk Seri Maharaja Lela pernah dirajakan di Aceh pada akhir abad ke-16 M. Pada saat yang sama sampiran ini menggambarkan kegiatan pelayaran orang Melayu dan Bugis di masa yang terkait dengan penyebaran Islam.

Citraan pada sampiran pantun juga sering merupakan perbandingan dan perumpamaan, dan tidak jarang merupakan lambang yang merujuk kepada Kehadiran agama Islam membuat orang Melayu kian yakin bahwa apa yang terbentang di alam semesta dan dalam diri manusia itu merupakan ayat-ayat-Nya, artinya tanda yang menakjubkan dari keagungan, keindahan dan kemahakuasaan-Nya. Dengan itu obyek-obyek dalam alam yang dihadirkan sebagai citraan hadir untuk melambangkan sesuatu. Contohnya bunga kemboja adalah lambang kematian karena pohonnya biasa di tanam di komplek pekuburan. Buah limau yang masam melambangkan rasa tidak senang atau penolakan seseorang kepada orang tertentu, misalnya apabila ia diberikan kepada utusan seorang pemuda yang ditolak permitaannya untuk meminang anak gadisnya. Buah delima adalah lukisan tetap bagi seorang gadis yang cantik muda. Sebuah kelapa yang dikorek kumbang adalah tanda seorang perempuan yang telah berhubungan badan dengan seorang lelaki.

Marilah kita lihat pantun yang mengandung perbandingan seperti berikut ini. Yang diperbandingkan ialah gadis yang sudah ternoda keperawanannya dengan mumbang yang dikerat tupai:

Buah kembang buah bidara
Masak serunsai dua runtai
Bersubang disangka dara
Bagai mumbang ditebuk tupai

 

Buah mengkudu atau jenisnya yang lain pacae, bukanlah buah yang tezat. Oleh karena itu tidak disukai orang kendati mengandung obat. Tetapi buah kandis sangat disukai karena manis.

Buah mengkudu kusangka manis
Kandis terletak di dalam puan
Gula madu kusangka manis
Manis lagi senyuman tuan

Ada juga pantun yang isinya adalah pembelaan diri seorang pemuda bagi perbuatannya yang tidak baik. Dalam sampiran dinyatakan agar menghindari teritip yang tidak berguna untuk dipakai pergi mengail ikan. Pantun ini juga mengandung kritik terhadap seseorang yang mestinya menjadi teladan banyak orang, tetapi ternyata sering melakukan perbuatan tidak baik. 

Teritip di tepi kota
Mari berkayuh sampan pengail
Imam khatib tagi berdosa
Bertambah pula kita yang jahil

 

Buah bidara bukan makanan utama dibanding pisang. Tetapi nasi makanan utama yang diperlukan. Apalagi nasi lemak. la merupakan hidangan istimewa seperti halnya nasi uduk di Jakarta, nasi liwet di Jawa Tengah, dan nasi rawon di Jawa Timur. Tetapi sayang dalam pantun berikut ini kelezatan dan arti nasi lemak menjadi berkurang, sebab dimakan dengan buah bidara, bukan misalnya dengan mentimun.

Nasi lemak buah bidara
Sayang selasih saya turutkan
Buang emak buang saudara
Karen kasih saya turutkan

 

 Demikianlah karena berahinya kepada seorang wanita seorang pemuda sanggup memutuskan hubungan dengan orang tua dan sanak saudaranya. Hal itu memang tidak jarang terjadi, padahal betapa pun hubungan seorang anak dengan ibu dan saudaranya patut dipelihara dibanding menurutkan hawa nafsu.

Lagi sebuah pantun melukiskan pentingnya galah untuk mengambil buah di dahan pohon yang tinggi dan buah yang dimaksud ialah cempedak, yang merupakan buah istimewa bagi orang Melayu dibanding buah sejenis seperti nangka.

Buah cempedak di luar pagar
Ambil galah tolong jolokkan
Saya anak baharu belajar
Kalau salah tolong tunjukkan

 

Kata tunjukkan ada kaitan dengan jolokkan. Nasehat atau kritik atas suatu perbuatan yang salah adalah ibarat galah yang kegunaannya dapat dijadikan alat untuk mengambil buah yang berharga dan lezat seperti cempedak, yaitu ilmu pengetahuan. Dalam Hikayat Malim Deman terdapat pantun seperti berikut:

Malam ini merendang jagung
Malam esok merendang serai
Malam ini kita berkampung 
Malam esok kita bercerai

 

Makan rendang serai tentu tidak enak dibanding makan rendang jagung. Begitu pula dengan bercerai tidak enak dibanding hidup bersama satu kampung. Di dalam pantun ini tidak dikatakan berumah tetapi berkampung. Ini memperlihatkan bahwa orang Melayu lebih mengutamakan kebersamaan dalam komunitas dibanding hidup tercerai dalam privasi. Perhatikan pula pantun yang mengandung kritik seperti berikut ini:

Apa guna asam paya
Kalau tidak menggulai ikan
Apa guna lagak dan gaya
Kalau bahasa tidak dibicarakan

 

 Bagi orang Melayu budi bahasa lebih penting dibanding lagak dan gaya. Ini selaras dengan adab Islam. Dalam Adab Islam orang menjadi terhormat bukan disebabkan kekayaan dan lagak lagunya. Tetapi karena memiliki pengetahuan, mengenal kearifan, dan dapat menuturkan pikirannya melalui bahasa yang bagus. Kecuali itu dalam mengemukakan pendapat selalu didasarkan pengetahuan yang benar, dan pertimbangan pikiran yang matang. Pantun yang baru saja dikutip menunjukkan pula betapa pentingnya bahasa sebagai sarana untuk meningkatkan kecerdasan. Sayangnya, pengajaran bahasa Indonesia sekarang ini diabaikan dan banyak orang lupa bahwa asal-usul bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu.

Pantun berikut ini mengandung ulangan kata-kata lengkap. Isinya adalah pandangan orang Melayu bahwa tidak patut seseorang itu menyalakan kelahiran. Penyebab burukya nasib seseorang bukan disebabkan takdir, melainkan karena seseorang terlalu jauh berangan-angan dan menurutkan hawa nafsu:

Tidak salah bunga lembayung
Salahnya pandan bila menderita 
Tidak salah bunda mengandung
Salahnya badan salah meminta

 

 Pandan menderita karena durinya. Badan menderita karena duri angan-angan dan hawa nafsu. Bunga lembayung dan bunda mengandung sangat sarasi. Bunga lembayung sangat indah. Seorang anak lahir dari kandungan ibu berkat cinta dan kasih sayang. Dalam pandangan ahli tasawuf, cinta terkait dengan keindahan. Sesuatu dicintai karena memancarkan keindahan. Kata-kata al-rahman danal-rahim yang kita baca setiap harinya dalam kalimat Basmalah mengandung arti cinta. Yang pertama,al-rahman atau Maha Pengasih adalah cinta Tuhan yang asasi (dzatiyah), yang diberikan kepada semua makhluk-Nya. Sedangkan al-rahim atau Maha Penyavang adalah cintanya yang wajib (wujub), artinya wajib diberikan kepada orang yang benar-benar beriman, bertaqwa, dan beramal saleh di jalan Allah. Kata-kata al-rahim diserap ke dalam bahasa Melayu dan diberi arti rahim ibu. Cinta seorang ibu kepada anaknya memang wajib diberikan.

Banyak pantun Melayu berisi paparan tentang nama pulau, gunung, bukit, tanjung, muara, pelabuhan, negeri, dan lain-lain. Misalnya, seperti dalam Hikayat Awang Sulung Merah Muda seperti telah diuraikan. Tidak jarang keindahan pulau-pulau itu dihubungkan dengan keindahan seorang gadis yang dicintai atau budi baik seorang sahabat yang disayangi. Seperti tampak dalam pantun berikut ini:

 

Tanjung Katung airnya biru
Dibuat anak cerminan mata
Sedang sekampung lagi rindu
Apalagi jika jauh di mata

 

Kadang pantun dijadikan selingan dalam sebuah cerita, seperti dalam pantun berikut ini: 

 

Mabuk buaya karena kesumba
Destar sebalik ditudungkan 
Mabuk hamba karena bercinta 
Sebagai penyakit ditanggungkan

 

Tidak jarang pula pantun dijadikan pembuka cerita. Misalnya yang terdapat dalam permulaan kisahSabai Nan Aluih dari Minangkabau:

Kait berkait rota saga
Sudah terkait di akar bahar
Terbang ke langit berberita 
Tiba di bumi jadi kabar

 

 Pantun-pantun yang saya contohkan ini memperlihatkan wawasan estetika yang tumbuh di dunia Melayu. Di sebalik keindahan lahir itu tersembunyi keindahan batin. Penciptaan sastra terjadi bukan semata disebabkan pengamatan cermat terhadap kehidupan sosial, tetapi didasarkan atas pemikiran dan kearifan. Seperti tersirat pada pantun pembuka kisah Sabai Nan Aluih, keindahan dan kebenaran dicapai oleh penulis melalui proses pengilhaman setelah seorang penulis menempuh jalan ilmu suluk.

Demikian pembahasan saya tentang pantun sesuai dengan pengetahuan yang terbatas. Semoga tidak mengecewakan dan selaras dengan tema yang diminta panitia seminar ini.

_____________________

Makalah ini telah dipresentasikan dalam Seminar Budaya Melayu di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Indonesia, pada tanggal 16-17 Desember 2008.

Prof. Dr. Abdul Hadi W.M. adalah penyair dan guru besar Universitas Paramadina, Jakarta.

Daftar Pustaka

  • Al-’Attas, Syed M. Naquib, (1970). The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala Lumpur: University of Malay Press.
  • Daillie, Francois-Rene, (1988). Alam Pantun Melayu: Studies  on the Malay Pantun. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan PustaKa.
  • Harun Mat Piah, (1989). Puisi Melayu Tradisional: Suatu Pembicaraan Genre dan Fungsi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Hooykaas, C., (11965). Perintis Sastra. Kuala Lumpur: Oxford University Press.
  • Iskandar, Teuku, (1995). Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Brunei: UBD.
  • Noriah Mohamed, (2006). Sentuhan Rasa dan Fikir dalam Puisi            Tradisional. Bangi Selangor: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.
Sumber foto: Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM)

Sumber :http://melayuonline.com/ind/article/read/869/pantun-sebagai-cermin-kehidupan-masyarakat-melayu

 ====

http://www.adicita.com/artikel/detail/id/70/Pantun-Sebagai-Cermin-Kehidupan-Masyarakat-Melayu

 
 

Awal mula pantun sunda ternyata sudah ada sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi, seperti yang kita ketahui penggemar pantun indonesia khususnya pantun sunda seakan-akan melekat erat dengan tradisi masyarakat. Meskipun tidak banyak orang yang tau sejarah pantun indonesia tapi entah kenapa mereka sangat menyukai pantun sebagai media berkomunikasi maupun sebagai pantun nasehat. Dari wikipedia di jelaskan bahwa pantun mempunyai sejarah yang sangat panjang di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Sejarah Pantun
2. Pertunjukan Pantun
3. Daftar Cerita Pantun

Dari wikipedi pantun Sunda pengertiannya berbeda dengan pantun Melayu. Pantun Melayu semakna dengan “sisindiran” Sunda, yaitu puisi yang terdiri atas dua bagian; sampiran dan isi. Sedangkan pantun Sunda adalah seni pertunjukan. Pantun adalah cerita tutur dalam bentuk sastra Sunda lama yang disajikan secara paparan (prolog), dialog, dan seringkali dinyanyikan. Seni Pantun itu dilakukan oleh seorang juru pantun (tukang pantun) sambil diiringi alat musik kecapi yang dimainkannya sendiri.

1. Sejarah Pantun

Seni pantun merupakan seni yang sudah cukup tua usianya. Disebutkan dalam naskah Siksa Kanda ng Karesyan, yang ditulis pada tahun 1518 Masehi, bahwa pantun telah digunakan sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi. Ceritanya pun berkisar tentang cerita-cerita Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi dan lain-lain yang disajikan oleh prepantun (tukang pantun). Pantun terdapat pula pada naskah kuno yang dituturkan oleh Ki Buyut Rambeng, yakni Pantun Bogor. Dalam perkembangannya, cerita-cerita pantun yang dianggap bernilai tinggi itu terus bertambah, seperti cerita Lutung Kasarung, Ciung Wanara, Mundinglaya Dikusumah, Dengdeng pati Jayaperang, Ratu Bungsu Kamajaya, Sumur Bandung, Demung Kalagan dll. Masyarakat Kanekes yang hidup dalam budaya Sunda Kuna sangat akrab dengan seni Pantun. Seni ini melekat sebagai bagian dari ritual mereka. Adapun lakon-lakon suci Pantun Kanekes yang disajikan secara ritual seperti Langgasari Kolot, Langgasari Ngora dan Lutung Kasarung.

Seni Pantun yang cukup tua usianya melahirkan beberapa tukang pantun pada setiap zamannya. Di Cianjur misalnya, dikenal nama R. Aria Cikondang (abad ke-17), Aong Jaya Lahiman dan Jayawireja (abad ke-19). Di Bandung terkenal Uce, juru pantun kabupaten Bandung (awal abad ke-20) dan Pantun Beton “Wikatmana” (pertengahan abad ke-20); dan di Bogor terkenal juru pantun Ki Buyut Rombeng.

Alat musik yang dipakai mengiringi seni pantun adalah kacapi. Pada mulanya kacapi tersebut sangat sederhana seperti yang terdapat di Baduy, yaitu kacapi kecil berdawai 7 dari kawat. Selanjutnya, sejalan dengan tumbuhnya seni Cianjuran, kacapi tersebut diganti dengan kacapi gelung (tembang), dan akhirnya menggunakan kacapi siter (Jawa). Adapun tangga nada (laras) yang digunakan dalam iringan kacapi tersebut adalah pelog, namun selanjutnya banyak yang menggunakan laras salendro.

2. Pertunjukan Pantun

Seni Pantun disajikan masyarakat Sunda dalam dua bentuk. Pertama, untuk hiburan, dan kedua untuk acara ritual (ruwatan). Sajian hiburan, ceritanya mengambil dari salah satu cerita pantun yang dikuasai juru pantun, atau atas permintaan penanggap. Sedangkan untuk acara ritual dalam ruwatan, ceritanya sama dengan dalam pertunjukan wayang, yaitu Batara Kala, Kama Salah atau Murwa Kala.

Dalam sajian pantun untuk ruwatan (tolak bala) diperuntukkan bagi orang-orang yang termasuk dalam sukerta, di antaranya anak tunggal, anak kembar, lima anak laki-laki, atau untuk keselamatan rumah baru, bangunan baru dan lain-lain. Pertunjukannya biasa dimulai sekitar pukul 02.00 – 05.00. Rajah dalam pertunjukan ruwatan lebih panjang lebih nampak kesakralannya. Sedangkan sajian pantun untuk kepentingan hiburan biasanya diadakan di rumah penanggap yang waktunya pada malam hari. Pertunjukan dimulai pukul 20.00 dan berakhlr sekitar pukul 04.00. Sekalipun pertunjukan Pantun untuk hiburan, namun tidak sembarangan disajikan. Pantun masih dianggap oleh masyarakat Sunda memiliki sifat sakral yang selalu dikaitkan dengan upacara penghormatan pada leluhur. Dengan demikian bentuk pertunjukan Pantun biasanya masih diikat dengan struktur pertunjukan yang baku dengan lakon yang selalu berkisar tentang raja-raja Sunda atau legenda masyarakat Sunda Secara umum pola pertunjukan Pantun dapat diurutkan sebagai berikut: penyediaan sesajen; ngukus (membakar kemenyan); mengumandangkan rajah pamunah; babak cerita dari pembukaan hingga penutupan; ditutup dengan mengumandangkan rajah pamungkas.

Sebagai kesenian yang hidup sejak zaman Hindu sampai Islam yang jadi anutan masyarakat, tak heran jika ungkapan dan ajaran (petuah) ki juru pantun merupakan pembauran keduan zaman itu. Selain isthigfar (Islam) terdengar pula ungkapan kepada dewata, Pohaci, para karuhun (leluhur), buyut dll.

Kesenian Pantun Sunda yang bercirikan budaya Sunda dengan berbagai aspeknya, terutama aspek kepercayaan Sunda Kuna, memberi dampak pada nilai kedudukan seni Pantun di masyarakat Sunda yang berbeda dengan kesenian-kesenian lain. Seni Pantun bagi masyarakat Sunda merupakan medium untuk dapat merasakan kembali sebuah masa keemasan sejarah masa lampau masyarakatnya.

Dewasa ini perkembangan seni Pantun harus diakui sangat memprihatinkan, namun dari sisi lain ada hal yang cukup mengesankan, bahwa seni Pantun pun dapat bertahan dengan tidak meleburkan diri menjadi satu bentuk kesenian yang pop/kitchs. Seni Pantun dpat bertahan sebagai seni yang adiluhung sekalipun dewasa ini ada sedikit pergeseran-pergeseran dibanding masa lalu, terutama pada fungsinya yang sakral menjadi profan.

3. Daftar Cerita Pantun

1. Ciung Wanara
2. Lutung Kasarung
3. Mundinglaya di Kusumah
4. Aria Munding Jamparing
5. Banyakcatra
6. Badak Sangorah
7. Badak Singa
8. Bima Manggala
9. Bima Wayang
10. Budak Manjor
11. Budug Basu /Sri Sadana / Sulanjana
12. Bujang Pangalasan
13. Burung Baok
14. Buyut Orenyeng
15. Dalima Wayang
16. Demung Kalagan
17. Deugdeug Pati Jaya Perang / Raden Deugdeug Pati Jaya Perang Prabu Sandap Pakuan
18. Gajah Lumantung
19. Gantangan Wangi
20. Hatur Wangi
21. Jaka Susuruh
22. Jalu Mantang
23. Jaya Mangkurat
24. Kembang Panyarikan / Pangeran Ratu Kembang Panyarikan
25. Kidang Panandri
26. Kidang Pananjung
27. Kuda Gandar
28. Kuda Lalean
29. Kuda Malela
30. Kuda Wangi
31. Langla Larang
32. Langga Sari
33. Langon Sari
34. Layung Kumendung
35. Liman Jaya Mantri
36. Lutung Leutik / Ratu Bungsu Karma Jaya
37. Malang Sari
38. Manggung Kusuma
39. Matang Jaya
40. Munding Jalingan
41. Munding Kawangi
42. Munding Kawati
43. Munding Liman
44. Munding Mintra
45. Munding Sari Jaya Mantri
46. Munding Wangi
47. Nyi Sumur Bandung
48. Paksi Keling / Wentang Gading
49. Panambang Sari
50. Panggung Karaton
51. Parenggong Jaya
52. Raden Mangprang di Kusumah
53. Raden Tanjung
54. Raden Tegal
55. Rangga Sawung Galin
56. Rangga Gading
57. Rangga Katimpal
58. Rangga Malela
59. Rangga Sena
60. Ratu Ayu
61. Ratu Pakuan
62. Ringgit Sari
63. Senjaya Guru
64. Siliwangi

Sastra, Sejarah

Tags: Awal Mula Pantun Indonesia, contoh pantun sejarah indonesia, Pantun Indonesia, Pantun Sejarah Indonesia, Pantun Sunda, Sejarah Pantun Di Indonesia,Sejarah Pantun Indonesia, Sejarah Pantun Sunda

 =====

http://awalmula.com/sejarah-dan-awal-mula-pantun-sunda-indonesia.html

 
 

Maraknya penerbitan buku—buku tentang pantun dalam tahun-tahun terakhir ini menjadi gelaja yang menarik untuk diamati khususnya oleh para pemerhati sastra. Buku-buku itu pada umumnya memuat sekedar penjelasan singkat tentang pantun dan banyak sekali contoh-contoh pantun baik pantun Melayu lama maupun pantun Modern. Beberapa judul diantaranya adalah berbalas pantun Remaja (Darwin S. Chaniago, 2003), Kebijakan dalam 1001 Pantun (John Gawa, 2007), Koleksi Pantun dan Puisi (Aditya Bagus Pratama, 2008), buku Pintar Pantun, Puisi dan Majas (Redaksi Shira Media, 2010), Pantun Asal 2 an ala Bang Sofyan (H. Sofyan Lubis, 2010), Pantun Unik dan Ciamik (Andrasari dan Chrisma, 2010).

Istilah pantun melayu yang disebut jugapantun tradisional mengacu pada nama salah satu genre puisi Indonesia Lama yang berasal dari daerah Melayu. Sebagai puisi melayu lama, pantunmemiliki ciri-ciri khas yang membedakannya dari jenis-jenis puisi melayu lama yang lain seperti syair, gurindam, seloka, dan lain-lain. Rumusan ciri-ciri pantun ialah: (1) bisanya terdiri atas empat larik yang tiap lariknya berisi empat kata, (2) bersajak akhir silang a-b-a-b, (3)larik pertama dan kedua berupa sampiran , tidak mengandung maksud dan hanya diambil rimanya saja untuk mengantarkan maksud yang akan dikeluarkan pada larik ketiga dan keempat yang lazim disebut maksud (isi) pantun. Ciri-ciri pantun terlihat dalam contoh ini:

Selain pantun biasa yang terdiri atas empat larik, terdapat pantun dua larik yang disebut pantun kilat atau karmina, dan pantunenam larik atau lebih yang disebut talibun. Berapa pun jumlah lariknya empat, dua, enam, atau lebih, jumlah itu pasti genap, karena jumlah larik untuk bagian sampiran dan bagian isi harus sama. Contoh:

Pantun kilat atau karmina:

Sudah gaharu cendana pula…..a? sampiran
Sudah tahu bertanya pula…..a? isi Talibun:

Kalau anak pergi ke lepau
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi merantau
Ibu cari sanak pun cari
Induk semang cari dahulu

Isi pantun melayu pada umumnya adalah ungkapan gejolak perasaan si pemantun. Hookyaas, seorang penelitipantun melayu menyebutkan bawa orang melayu memilih pantun untuk mewujudkan gejolak rasa, isi hatinya.

Istilah pantun modern diartikan sebagai pantun terbaru, merupakan bentuk kreatif dan pantun tradisional. Gejala munculnya jenis pantun seperti ini sudah cukup lama, yaitu sejak tampilannya bentuk semacam itu dalam berbagai kesempatan komunikasi: mengucapkan selamat, memberi nasihat, pidato maupun memberikan sambutan dalam berbagai acara. Di televisipun pantun muncul baik dalam tayangan khusus maupun sebagai selingan yang diucapkan oleh presenter dalam acara-acara hiburan.

Di sutu sisi, kehadiran pantun modern sungguh memnyenangkan. Pantun modern adalah karya kreatif yang menghibur. Ungkapan berbagai perasaan dijalin dalam kata-kata yang lugu, lucu dan ceria, seperti yang terlihat dalam contoh ini:

Meski aku sudah kenyang
Tetap harus mknum jamu
Perempuan yang kusayang
Bolehkan aku bertamu

Aku tidak suka mangga
Tapi aku suka duku
Aku tidak suka dia
Tapi dia suka aku

Buah manggis buah pepaya
Cewek manis siapa yang punya
Buah kedondong buah atep
Dulu bencong skarang tetep

Pakem atau patokan asli pantun masih tampak diikuti pada contoh-contoh pantun di atas. Para pemantun, biasanya anak-anak muda yang kaya akan ide-ide yang segar, mengembangkan kreativitasnya tanpa merusak ciri-ciri yang melekat pada pantun. Dari sisi ini arah perkembangan pantun postif. Pantun modern memperkaya khazanah sastra indonesia sekaligus melestarikan waisan budaya.

Namun ada sisi lain yang perlu diawasi dalam perkembangan pantun modern itu. Pada sebagian pantun tampak kecenderungan menyimpang bahkan meninggalkan sama sekali ciri-ciri pantun yang asli. Penyimpangan ini misalnya menyangkut jumlah larik dalam bait serta jumlah kata dalam larik yang tidak menentu, tidak adanya sampiran yang mengantar isi pantun, tidak diperhatikannya rumusan rima pantun dan sebagainya seperti yang tampak pada bentuk berikut:

Beli nasi di narogong
Mukamu mirip bagong
Eitss…jangan marah donk

Ada kardus bentuknya kotak
Awas disitu ada si botak
Baru ngakak-ngakak
Ga takut kesamber gagak apa yak?

Gila kali ya?

Perhatian-perhatian
BT cemberut dan ga mood
Dapat menyebabkan
Keriput
Kentut-kentut

Bahkan

Tubuh menciut kayak liliput
Ga bisa ngebut
Kaya siput
Mending
Baca SMS dari orang imut

Pada cotoh-contoh di atas terlihat tiga bait pantun yang tiap baitnya masing-masing terdiri atas tiga,lima, dan sebelas larik. Padahal jumlah larik yang ganjil (tidak genap) tidak dimungkinkan untuk pantun. Tidak pula ada sampiran yang menjadi ciri khas pembela pantun dan puisi lain. Seluruh larik dalam bait menyatakan maksud. Rima sama a-a-a-a terasa dipaksakan dan kurang wajar.

Kecenderungan penyimpangan lebih jauh terlihat pada bentuk-bentuk pelesetan seperti ini:

Kakak monyong adik memble
Keturunan jelek kali ye….
Jalan kaki ke kalimantan
Capeeeeee deccch…..

Jalan-jalan ke Malaysia
Jangan lupa membeli sarung
Emangnya di Indonesia
Nggak ada sarung?

Kalau ada sumur di lading
Boleh kita menumpang mandi
Iseng banget mandi di ladang
Mandi mbok ya di kamar mandi

Hi…hii

Jadi geli sendiri

Buah rambutan buah kedondong
Mau buah-buahan? Beli di pasar donk!

Plesetan sendiri sudah mengisyaratkan penyimpangan karena meleset berarti tidak mengena sasaran. Dengan melesetkan sesuatu (pengucapan/pernyataan) timbul kelucuan yang menghibur. Selain lucu, dalamplesetan juga terkandung unsur kreativitas dan spontanitas. Unsur-unsur kelucuan kreativitas, spontanitas juga terdapat dalam pantun terutama pada jenis pantun jenaka, pantun teka-teki, dan pantun berbalasan. Tetapi bentuk-bentuk plesetan seperti bentuk diatas tidak dapat disebut sebagai pantun. Bukankah untuk dapat disebut pantun tetap harus dipenuhi syarat-syarat pantun?

Bagaimanapun, penciptaan pantun-patun modern merupakan kreasi yang patut dihargai. Lebih-lebih bila dikaitkan dengan upaya pelestarian warisan budaya. Yang perlu dicatat adalah bahwa melestarikan itu bermakna mempertahankan kelangsungan tanpa mengubah terlalu banyak. Melestarikan pantun melalui penciptaan pantun-pantun modern jangan sampai mengubah sama sekali hakikat pantun.

Jika melihat penyimpangan-penyimpangan yang terlalu jauh pada pantun modern dikawatirkan kalau-kalau pantun sebagai warisan budaya justru tinggal nama yang kehilangan jiwa. Generasi mendatang mungkin tidak lagi mengenal sosok pantun yang sesungguhnya. Mereka bisa kehilangan salah satu genre sastra miliknya.

*) Penulis Dra. SAYEKTI, M.Pd.

Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Katolik Widya Mandala

Madiun

======

http://www.widyamandala.ac.id/home/index.php?option=com_content&view=article&id=256:pantun-modern&catid=65:krida-rakyat