/>
 
Rubrik Khazanah Pantun Minang minggu ini menyuguhkan delapan bait pantun lagi yang merekam perceraian (sementara atau bisa juga selamanya) para calon perantau Minangkabau dengan kampung halaman mereka. Silakan para pembaca calon perantau, perantau yang sedang menjengukRanah Bundo, atau para veteran perantau yang sudah merasakan susah-senangnya hidup di rantau menikmatinya.

33. Sikaduduak di bawah rumah,
Ureknyo malinteh sandi,
Tinggalah Mandeh punyo rumah,
Kami bajalan anyo lai.

34. Pucuak pauah kulak-kulakan,
Kasiak badarai di kuali,
Pangku adiak buai-buaikan,
Kasiah bacarai anyo lai.

35. Tingga tokok tingga landasan,
Tingga batu kiliran taji,
Tingga kampuang tingga halaman,
Tingga tapian tampaik mandi.

36. Buah pauah dalimo batu,
Tambilang buek ka pinggalan
Sungguah jauh nagari satu,
Hilang di mato di hati jangan.

37. Tinggi malanjuiklah sitapuang,
Tinggi manyapu-nyapu awan,
Tingga tacaguiklah kau kampuang,
Kami barisuak ka bajalan.

38. Kok jadi awak ka pakan,
Iyu bali balanak bali,
Ikan panjang bali daulu,
Kok jadi Anak bajalan,
Ibu cari dunsanak cari,
Induak samang cari daulu.

39. Ambiak api pasang lantera,
Tariak kabau pasang padati,
Pacik umanaik di nan tingga,
Salamaik sajo pulang pai.

40. Tabantang lapiak tangah rumah,
Buatan urang Batang Kapeh,
Biduak ketek pangayuah lamah,
Mukasuik maadang lauik lapeh.

Memang Mandeh (baca: perempuan) lah yang punya rumah di Minangkabau, seperti disiratkan dalam bait 33. Lelaki Minang hanya mendapat ruang terbatas di atas rumah gadang: datang selincam di siang hari, tidur di surau di malam hari. Itu dulu, tapi kini mungkin sudah lain. Konon sekarang sudah banyak anak lelaki Minangkabau yang suka tidur di rumah ibunya ketimbang pergi ke surau untuk mengaji. Sudah menjadi perempuankah mereka? Mungkin saja kebiasaan ini muncul sejak robohnya surau kami, meminjam judul cerpen A.A. Navis (edisi pertama: 1956) yang terkenal itu.

Siapapun calon perantau Minang, pada mulanya dia akan merasa berat hati meninggalkan orang tua, adik-kakak, sanak famili, karib kerabat, teman sepermainan, dan kekasih hati di kampung. Padang Panjang pakan Rabaa / Nak taruih ka Bukiktinggi / Kasiah sayang kini ka tingga / Dagang bajalan anyo lai kata bait pantun yang lain. Berat rasanya hati menghadapi kenyataan bahwa kampung halaman dan tepian tempat mandi akhirnya harus ditinggalkan. Demikian perasaan si calon perantau yang terefleksi dalam bait 34 dan 35. Sungguhpun begitu, si calon perantau berjanji: walau jauh di mata, namun kampung halaman akan tetap dekat di hati (bait 36).

Dalam bait 37 terlukis situasi emosi seorang dagang Minangkabau yang akan pergi merantau. Gambaran tentang siapa yang gundah sengaja dibalikkan: bukan kampung yang sedih (mancaguik) sebenarnya, tapi justru si calon perantau yang merasa nelangsa hatinya karena akan pergi jauh ke negeri orang. Si aku lirik, yang sedang berperang dengan perasaan sendiri, berusaha menghibur dirinya sendiri. Ironi terbalik seperti itu juga dapat dikesan dalam bait 39: orang di kampung (bisa juga berarti kekasih) disuruh memegang amanat dengan erat. Tapi yang diragukan kesetiaannya justru sebenarnya mereka yang (akan) pergi, karena rantau mungkin akan mengubah diri mereka.

Ada kegamangan yang dirasakan ketika kapal merenggang dari dermaga Teluk Bayur, atau ketika otoGumarang sudah bergerak menuju arah Gunung Medan atau Kelok Sembilan: si calon perantau, yang masih belum banyak punya pengalaman, sadar bahwa ia akan mengharungi kehidupan baru yang masih penuh dengan ketidakpastian di negeri orang. Perasaan itu diibaratkan seperti biduk kecil dengan pendayung yang lemah, tapi harus menghadang laut lepas yang luas tak bertepi (bait 40).

Inti pengajaran yang paling penting bagi para perantau terdapat dalam bait 38: jika seorang Minang pergi merantau, induk semang harus dicari dahulu, dari suku atau bangsa mana saja boleh. Sebab perantau Minang jarang yang dimodali dengan pitih bakambuik dari kampung. Malah, seperti dinyatakan dalam bait itu, mencari induk semang harus didahulukan daripada mencari ibu pengganti atau famili. Susah untuk dimungkiri bahwa para perantau Minang yang sukses niscaya telah mengamalkan ajaran ini.

Suryadi [Leiden University, Belanda]
Padang EkspresMinggu, 5 Desember 2010

 


Comments




Leave a Reply

    Picture
    KEMBALI KE BERANDA
    English French German Spain

    Italian Dutch Russian Brazil

    Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
    Google Translate by Haris Fadhillah

    Khasanah Pantun Minangkabau

    Archives

    January 2013
    December 2012