/>
 
Tidak terasa, rubrik ‘Khazanah Pantun Minang sudah memasuki nomor ke delapan. Kali ini sepuluh bait pantun lagi, yang dikutil dari Bijzondere Collecties Leiden University Library, kami hantarkan kepada sidang pembaca Padang Ekspres.

61. Bintang kalo tujuah sajaja,
Pangiriang bintang puyuah lago,
Ambo ini kurang pangaja,
Jangan disabuik kurang baso.

62. Manari-nari kumbang Padang,
Bari batali banang suto,
Santuni kami anak dagang,
Untuang manjadi ‘rang di siko.

63. Pitalah jo Bungo Tanjuang,
Katigo jo Gunuang Rajo,
Tidak salah bundo manganduang,
Salah di badan buruak pinto.

64. Den patah tidak tapatah,
Den titih balari-lari,
Den tagah tidak tatagah,
Den bari sakandak hati.

65. Anak sipasan punai tanah,
Gilo mairuik daun juo,
Sajak sajangka dari tanah,
Gilo maminun racun juo.

66. Singkarak kotonyo tinggi,
Sumaniak mandado dulang,
Awan bararak ditangisi,
Dagang jauah di rantau urang.

67. Sarasah Gunuang Marapi,
Malerang bardarai-darai,
Biduak pacah nangkodo mati,
Anak dagang barcara-barai.

68. Galo-galo di sarang rangik,
Rangik di sarang galo-galo,
Salamo manantang langik,
Balun dirasai nan bak nangko.

69. Mandaki bukik Sipisang,
Pai mambali lapiak pandan,
Manangih maadok pulang,
Takana di untuang badan.

70. Anak si Adun si Abdullah,
Padi nan jangan dilampisi,
Kok tibo hukum ajarullah,

Kami nan jangan ditangisi.

R.J. Chadwick dalam Uncosummated Metaphor in the Minangkabau Pantun (1994) mengatakan bahwa secara substansial pantun-pantun Minangkabau mengawali kisahnya dengan keberangkatan seorangperantau dari desanya, yang mengingatkan kembali pada kehidupan dalam rahim ibunya. Kisah itu kemudian memuncak pada perkawinannya, yang juga meramalkan kematiannya dan naiknya ke syurga. Tokoh puitis dalam pantun-pantun Minangkabau bisa laki-laki atau perempuan. Para wanita muncul dalam drama sebagai para pelaku, tetapi umumnya sebagai ibu, saudara perempuan, kekasih, istri, dan janda. Sebagian besar pantun dipusatkan pada periode antara keberangkatan sang parantaudan perkawinannya. Ada juga sejumlah pantun yang membuat pengamatan filosofis secara umum yang bisa berlaku pada titik mana pun dalam biografi seseorang tetapi, meski demikian, bukannya tidak relevan bagi biografi heroik.

Untaian pantun yang kami sajikan di atas merekam periode menjelang rantau dan juga setelah sampai di rantau. Isi bait 61-62 mengekspresikan sifat rendah hati perantau Minang. Mereka melihat rantau sebagai negeri orang yang airnya harus disauk, rantingnya harus dipatah. Mungkin karena itu pula secara umum perantau Minangkabau tak pernah berkonflik dengan penduduk asli atau pendatang lainnya di rantau. Perantau Minang, dengan demikian, melihat rantau sebagai (ganti) kampung sendiri, yang diharapkan dapat menjadi tempat untuk memperbaiki nasib malang (buruak pinto), misalnya karena orang tua meninggal biduak pacah, nangkodo mati yang memaksa mereka meninggalkan kampung halaman sendiri (bait 63-65, 67).

Dagang Minangkabau sering memendam penderitaan di rantau. Suka-duka di rantau, walau paling berat sekalipun (68), akan ditanggung sendiri (66). Akan tetapi justru karena itu pula kampung halaman sering terbayang (69). Namun, tekad dagang Minang ketika menuju rantau adalah: esa hilang, dua terbilang. Walau akhirnya mati di rantau, Bunda dan famili di kampung jangan menangis (70). Semoga sikap perantau Minang yang tidak cengeng itu tetap terwarisi oleh generasi perantau Minang masa kini.

(bersambung )

Suryadi [Leiden University, Belanda]
Padang Ekspres, Minggu, 26 Desember 2010

 


Comments




Leave a Reply

    Picture
    KEMBALI KE BERANDA
    English French German Spain

    Italian Dutch Russian Brazil

    Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
    Google Translate by Haris Fadhillah

    Khasanah Pantun Minangkabau

    Archives

    January 2013
    December 2012