/>
 
Peminat rubrik Khazanah Pantun Minangkabau mungkin ibarat orang perimba: makin jauh perjalanan makin gelap hutan yang ditempuh. Minggu ini, untuk kali yang ke-11, kami sajikan delapan bait pantun muda lagi yang makna kiasnya terasa makin pekat. Tentu saja, seperti biasa, di bagian akhir kami sediakan suluh kecil untuk memahami apa di balik yang tersurat. Tokok tambahnya tentu utang para mamak menjelaskan kepada kemenakannya.

86. Pisang sirandah masak ampek,
Mari diguntiang jo dirauik,
Carilah biduak panjang ampek,
Paambiak bungo dalam lauik.

87. Tumbuahlah pandan tangah laman,
Diambiak untuak sahalai lapiak,
Kalau runtuah Gunuang Pasaman,
Batu balah bungo diambiak.

88. Sikudidi makan ka pantai,
Kariang pasang makan ka tangah,
Baiak budi nan kuniang lanjai,
Diadu kami parang menah!

89. Dari Siturak ka Situngkai,
Dari Simabua nak ka Gasan,
Tupai malompek malapari,
Cubolah urak jan diungkai,
Cubolah buhua jan mangasan,
Adiak tadanga biopari.

90. Dari Siturak ka Situngkai,
Tabanglah anak murai batu,
Indak taurak indak taungkai,
Labiah satagok kabun batu.

91. Ruak-ruak tabang ka munggu,
Tabang jo anak unggeh pudiang,
Bara ka tagok kabun batu,
Mari diurak jo kalingkiang.

92. Kok Siturak babatang pimpiang,
Tupai malompek malapari,
Kok taurak jo kalingkiang,
Itu namonyo biopari.

93. Batak mandi Ulando mandi,
Rumpuik manih limau kasumbo,
Pasak basi karando basi,
Muluik nan manih pangungkainyo.

Kiasan dalam baris-baris isi kedelapan bait pantun di atas adalah mengenai seorang gadis (tapi bisa juga bujang) yang tak mempan oleh cumbu-rayu, yang memakai prinsip meminjam istilah anak muda sekarang Emangnye gue pikirin!. Pokoknya, sudah banyak yang coba mendekati si dia, tapi tidak ada yang berhasil. Pulang dengan tangan hampa.

Bunga dalam baris-baris isi bait 86 dan 87 jelas kiasan kepada gadis, yang diproteksi oleh keluarganya, bagai seorang putri raja yang siang-malam duduk menyulam di anjung peranginan (ibarat bunga yang jauh di dasar laut, sukar diperoleh). Kalau berhasil mendekati keluarganya (yang protektifnya ibarat Gunung Pasaman yang berbatu cadas keras), tentu saja dengan syarat yang sesuai (ibarat biduk panjang empat), maka mungkin sudah lebih lempang jalan bagi Anda untuk mendapatkan gadis idaman itu. Yang namanya idola yang diincar banyak orang, jelas Anda atau saya tak bakalan menolak si gemulai berulit kuning (kuniang lanjai) yang baik budi itu: Diadu kami parang menah! (88). Meminjam ungkapan anak muda sekarang: Siapa takut?.

Ada pelajaran bagus dalam baris-baris isi bait 89: jika Anda ada masalah (cinta) dengan si dia, jangan sampai diketahui orang lain. Sebaliknya, jika gayung bersambut (si dia memberi harapan), jangan sampai orang lain tahu pula. Dengan kata lain: pintar menjaga rahasia. Itu tandanya Andabiopari (biaperi, cerdik).

Pendirian yang teguh memang bisa lebih kokoh daripada kebun batu (90), tak bergeming, susah mengurak dan mengungkainya. Tapi jika Anda pintar dan tahu rahasianya, pasti si dia akan menyerah juga: Anda akan berhasil mendapatkan kasih sayangnya. Kata kiasan kalingkiang (kelingking) yang digunakan untuk menguraknya (91 & 92) bisa berarti sesuatu yang halus dan lemah (ibarat jari kelingking). Makna yang terkandung dalam kedua bait ini sangat dalam: pendirian yang keras, hati yang tak bergeming, dapat dilunakkan dengan kata-kata yang lemah-lembut, budi bahasa yang menyejukkan hati.

Itulah pesan yang penting bagi kita di zaman ini, di mana kapitalisme yang makin mengentalkan budaya kebendaan makin mengikis sifat sopan santun dalam diri manusia. Ungkapan Yunani kuno:homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya) makin kentara terasa. Kiranya ada gunanya menangguk pesan moral pada bait terakhir (93) di atas: Pasak basi karando basi /Muluiknan manih pangungkainyo: dengan mulut manis dan kucindan murah (kucindan = senda, gurau, kelakar), budi baik paham ketuju, hati atau pendirian yang paling keras pun niscaya akan meleleh.

(bersambung )

Suryadi [Leiden University, Belanda]
Padang Ekspres, Minggu, 16 Januari 2011

 


Comments




Leave a Reply

    Picture
    KEMBALI KE BERANDA
    English French German Spain

    Italian Dutch Russian Brazil

    Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
    Google Translate by Haris Fadhillah

    Khasanah Pantun Minangkabau

    Archives

    January 2013
    December 2012