/>
 
Seperti pada minggu lalu, rubrik Khazanah Pantun Minang nomor 12 ini, yang sudah mencapai bait ke-100, mempersembahkan kepada pembaca setianya serenjeng lagi pantun Minang klasik, kado kecil dari Universiteitsbibliotheek Leiden, Belanda. Sifat klasiknya dapat dikesan dari banyak kata arkhais yang ditermukan dalam teksnya: kata mantialau [sejenis burung berbulu kuning] dan nambek, misalnya, tentu sudah kurang akrab di telinga anak muda kini.

Seperti biasanya, ulasan kami dalam rubrik ini hanya sekedar memberi obor kecil bagi penikmat pantun Minangkabau, khususnya kalangan generasi muda, untuk menelusuri rimba makna konotatifnya. Untuk kajian yang lebih dalam, baik mengenai sistem majasnya, hubungan sampiran dan isinya, gaya bahasanya, dan lain sebagainya, kita persilahkan saja para peneliti di Balai Bahasa Padang, dosen/mahasiswa di Jurusan Sastra Daerah/Program Studi Bahasa & Sastra Minangkabau Fakultas Sastra Universitas Andalas, atau scholar lain yang berminat untuk melakukannya. Selamat menikmati.

94. 
Mantialau di bawah batang,
Baminyak cando bulunyo,
Kian dialau kian datang,
Burung lah jinak dahulunyo.

95. 
Baminyak batang timbakau,
Ambiak pangaik gagang bungo,
Kok jinak nambek dicakau,
Pado manjadi lia lamo.

96. 
Mudiak Pauh iliakan Pauh,
Batungkek batang kamumu,
Disakah daun baringin,
Katudung anak di Turawan,
Adiak jauah kami pun jauah,
Pabilo maso ka batamu?
Kasiah kirimkanlah di angin,
Sayang kirimkanlah di awan.

97. 
Putuih terantak tali balam,
Putuih ditimpo hujan labek,
Tasentak Adiak tangah malam,
Urai aia mato bagulambek.

98. Balayia tantang Taluk Kasai,
Sudah bamuek daun padi,
Aia mato salamo carai,
Kok sumua elok tampaik mandi.

99. 
Guruah-gamuruah dalam kabuik,
Daga-badaga dalam bulan,
Tampuruang bari batali,
Nuri mako urang sangkakan,
Ka bapisuruah kami takuik,
Ka bakato kamaluan,
Mukasuik lah lamo dalam hati,
Kinilah baru kami banakan.

100. 
Diambuih pupuik dipantakan,
Di Puruih pandan manjarami,
Dek takuik muluik mangatokan,
Rasailah badan maidoki.

Datak hati ateh pado tanuang : mungkin kalangan pembaca Padang Ekspres yang sudah pinang sirahikua hingga yang sudah bertongkat batang tibarau tentu tergelak-gelak kacang bogo membaca pantun-pantun yang kami sajikan ini. Barangkali mereka teringat kepada masa mudanya kembali. Sementara pembaca dari kalangan muda, mungkin merasa makin ingin tahu, ingin mengecap lagi seni estetika berbicara Minangkabau yang penuh dengan kata berkias itu.

Baris isi bait 94 menyiratkan si dia yang sudah kena pelet. Udah nggak bisa diputusin lagi. Ibaratnya: kalau nggak sama Abang, biarlah Adinda gantung diri. Nah, kalau si dia sudah cinta mati begitu, cepat-cepatlah menghadap keluarganya sambil membawa cincin tunangan. Jangan bertangguh sampai Anda dapat kerja dulu, sebab bisa saja nanti dia kabur lagi (pado manjadi lia lamo) (95).

Baris-baris isi bait 96-98 mengilatkan kekasih yang jauh di rantau lagi. Ini adalah salah satu inti yang penting dalam sastra Minangkabau. Soal berpisahkan sepasang kekasih karena faktor merantau tidak saja kentara dalam pantun-pantun Minangkabau, tapi juga dalam kaba. Ini jelas merupakan refleksi sosiologis dari budaya merantau orang Minang. Rupanya sudah cukup lama rantau menceraikan sejoli lirik dalam bait-bait itu. Jika rindu-dendam sudah membakar hati, orang tidak segan-sengan menyeru pertolongan kepada (si)apa saja, juga kepada angin dan awan (96). Dan bagi si gadis yang menunggu kekasihnya dengan setia, bila terbangun di tengah malam, hanya air mata yang akan mengalir (97), tentu diiringi kemudian dengan sedu sedan. Beda sekali ya dengan fenomena sekarang: Anda bisa langsung pencet blackberry, kirim sms atau telepon langsung kepada si dia di Jawa sana.

Dan…amboi…bait 98 itu paling saya sukai: hiperbolanya lebih tinggi dari Gunung Singgalang. Masaksih selama berpisah air mata si dia sudah menggenang bagai air di sumur, yang bisa dijadikan air mandi? Tapi tunggu dulu: kiasan hiperbolis yang luar biasa ini agaknya boleh dirasakan oleh mereka yang sedang jatuh cinta berat tapi terpaksa berpisah berbilang tahun.

Baris-baris isi dua bait terakhir adalah pesan tunjuk hidung kepada si peragu: jangan malu mengutarakan isi hati, beranikan diri, fokuskan pikiran, tapi jangan sampai terkesan seperti seorang penggemis cinta (oh…lagu dangdut lagi!). Sebab jika maksud yang terkandung di hati sudah lama ada, tapi lama kemudian baru berani mengungakapkannya, saya khawatir Anda sudah terlambat. Dan jika sudah terlambat, hanya karena mulut takut mengatakan, besar kemungkinan badan (dan jiwa) Anda akan marunuih (merana) karenanya (100). Ini zaman sudah cukup edan. Rejeki elang bisa disambar musang.

(bersambung )

Suryadi [Leiden University, Belanda]
Padang Ekspres, Minggu, 23 Januari 2011

 


Comments




Leave a Reply

    Picture
    KEMBALI KE BERANDA
    English French German Spain

    Italian Dutch Russian Brazil

    Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
    Google Translate by Haris Fadhillah

    Khasanah Pantun Minangkabau

    Archives

    January 2013
    December 2012